Dzackidotcom

Semua Ada Disini

Jenderal Suharto: Bencana Beruntun Karena SBY Zalim

Jakarta –Mantan Koemandan Marinir Letjen TNI (Purn) Soeharto menganggap, berbagai bencana yang terjadi di sejumlah wilayah tanah air belakangan ini disebabkan perlakuan zalim pemerintah SBY terhadap rakyatnya. Kezaliman pertama itu, jelasnya, karena pemerintahan SBY tidak memiliki konsep dan cenderung mengedepankan pencitraan diri.
“SBY juga hanya menggunakan masterplan orang asing. Maka bila dibandingkan rezim Orde Baru ternyata masih baik ketimbang rezim SBY. Mantan Presiden Soeharto memiliki konsep sehingga bencana bangsa yang terjadi jauh lebih sedikit dibandingkan masa kepemimpinan SBY,” tandas jenderal marinir purnawirawan ini.

Hal ini disampaikan Letjen TNI (Purn) Soeharto dalam diskusi bedah buku “Bencana Bersama SBY” karya Ridwan Saidi yang digelar Petisi 28 di Doekoen Coffee, Jl,. Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (31/10), seperti dilansir RM Online.

Ia menambahkan, kezaliman lain yang sudah dilakukan SBY adalah membiarkan penggantian demokrasi Pancasila dengan nilai-nilai demokrasi Barat. Demokrasi kerakyatan oleh hikmat dirubah dengan demokrasi one man one vote alias demokrasi uang. “Kepemimpinannya (SBY) sudah menghancurkan rumah rakyat (MPR). MPR dijadikan banci. MPR sudah dilumpuhkan dengan amandemen-amandemen,” tandasnya.

Jika ingin terbebas dari bencana, pemerintah harus menghentikan perlakuan zalim yang telah dilakukannya kepada rakyat. “Tanpa itu dilakukan bangsa ini tetap akan terkena bencana,” pungkas mantan Komandan Marinir ini.

SBY ‘Lelet’ Mirip Perempuan
Pengamat politik senior Ridwan Saidi yang juga mantan Ketua Umum PB HMI menilai, sebenarnya ada yang salah pada sosok Persiden SBY sehingga bencana datang beruntun selama kepemimpinannya mulai dari Tsunami Aceh, banjir di berbagai daerah hingga yang terakhir ini tsunami Mentawai dan letusan Gunung Merapi.

“Saya kira karena dia (SBY) selalu bicara tidak konsisten dan tidak relevan,” papar Ridwan Saidi di sela-sela diskusi bedah buku karyanya berjudul “Bencana Bersama SBY” yang digelar Petisi 28 di Doekoen Coffee, Jl. Pasar Minggu, Pancoran, Jakarta, Minggu (31/10/2010).

Secara metafisika, menurut Ridwan, pernyataan SBY yang ternyata inkonsistensi setelah dilantik pada 2004 lalu berakibat fatal. SBY waktu itu mengatakan mau tinggal di Istana Negara tapi kenyataannya dia malah tetap memilih tinggal di Cikeas, Bogor.

Ridwan pun menilai tak aneh apabila Presiden SBY selalu terlambat dalam menangani korban bencana, bahkan terkesan kurang responsif. Sebab dalam pengamatannya, gestur tubuh yang dimiliki SBY bukanlah gestur presiden yang baik seperti dikehendaki alam. “Geometri tubuhnya tidak sesuai dengan geometri alam. Masak (maaf -red) teteknya besar dan pantatnya gede,” celetuknya.

Tapi kenapa SBY selalu menang di pemilu, bukankah itu kehendak alam? “Saya kira bukan. Dia menang karena uang, bukan karena kehendak alam,” jawab Ridwan Saidi yang juga budayawan Betawi ini.

3 November 2010 - Posted by | berita | , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: