Dzackidotcom

Semua Ada Disini

Jadi Budak Seks dan Disiksa di Malaysia


WF ditemukan dengan kondisi mengenaskan, penuh luka dan darah mengucur di sekujur tubuh.
Selasa, 21 September 2010

Kabar menyayat hati datang lagi dari negeri jiran. Seorang pembantu rumah tangga Indonesia, yang berpredikat mentereng ‘pahlawan devisa’, kembali jadi korban bulan-bulanan majikannya di Malaysia.

Sebut saja dia WF. Perempuan 26 tahun ini berasal dari Lampung Timur. Mimpinya untuk mendapatkan penghidupan lebih baik di Malaysia malah kandas. Selama empat bulan, ia justru menjalani hidup seperti di neraka. Baca lebih lanjut

21 September 2010 Posted by | Tak Berkategori | | 1 Komentar

Calon Kapolri



Presiden Sudah Tetapkan Pilihan
Komjen Nanan Soekarna (kiri) dan Irjen Imam Sudjarwo
TERKAIT:
JAKARTA, TRIBUNNEWS.com Juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Julian Aldrin Pasha, memastikan bahwa Presiden sudah menyelesaikan seleksi calon kapolri pengganti Jendral (Pol) Bambang Hendarso Danuri. Calon kapolri tersebut dalam waktu dekat akan diserahkan ke DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan.

“Prosesnya (menetapkan calon kapolri) sudah selesai. Hanya tinggal dikirimkan ke DPR, dan tentu kini masih dipertimbangkan betul oleh Bapak Presiden soal itu. Insya Allah minggu depan sudah dikirimkan secepatnya ke DPR,” kata Julian kepada Tribunnews.com di Jakarta, Sabtu (18/9/2010).

Menurut Julian, segala kemungkinan bisa saja terjadi. Apakah Presiden hanya menyerahkan satu atau dua nama calon kapolri? Menurutnya, Kapolri sudah menyerahkan dua nama calon penggantinya kepada Presiden.

Meski mengakui ada dua nama calon yang diserahkan Kapolri, Julian secara diplomatis mengungkapkan bahwa Presiden SBY kemungkinan menyerahkan satu nama calon kapolri ke DPR.

“Kemungkinan-kemungkinan selalu ada, dan bisa saja terjadi.  Bisa satu orang, satu nama, satu calon yang akan diusulkan oleh Bapak Presiden, atau lebih. Tapi kan sampai sekarang belum bisa dipastikan karena masih dipertimbangkan betul,” ungkap Julian.

Adapun nama calon kapolri yang beredar luas di kalangan wartawan adalah Komjen Imam Sudjarwo dan Komjen Nanan Sukarna. Namun, belakangan muncul nama Komjen Jusuf Manggabarani yang saat ini menjabat Wakapolri.

19 September 2010 Posted by | Tak Berkategori | | Tinggalkan komentar

Ganyang Malaysia


Oleh: Susanto Pudjomartono *

Unjuk rasa menentang Malaysia mengenai masalah perbatasan masih terus saja bermunculan di banyak tempat. Para pengunjuk rasa umumnya terdiri dari generasi muda.

Pola unjuk rasa mereka umumnya membakar bendera Malaysia sembari menuntut agar Pemerintah Indonesia bersikap lebih ”tegas” karena menganggap bahwa harga diri dan kedaulatan bangsa telah diinjak oleh negeri jiran tersebut.

Cukup banyak yang bahkan menuntut agar kita kembali ”mengganyang” Malaysia seperti pada tahun 1960-an, malah kalau perlu berperang. Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang zaman konfrontasi itu?

Istilah ”konfrontasi” dipopulerkan Menteri Luar Negeri Soebandrio pada 20 Januari 1963. Sikap bermusuhan terhadap Malaysia kemudian dipertegas oleh Presiden Soekarno lewat diumumkannya perintah Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1963.

Isinya, selain perintah untuk memperkuat ketahanan revolusi Indonesia, seluruh rakyat juga diperintahkan membantu perjuangan rakyat Malaya, Singapura, Sarawak, dan Sabah untuk menghancurkan Malaysia. Indonesia menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang didalangi Inggris sebagai upaya nekolim (neokolonialisme dan imperialisme) membentuk sebuah negara boneka.

Adapun istilah ”Ganyang Malaysia” dilahirkan Bung Karno. Presiden pertama RI itu sangat gusar ketika dalam demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur pada 17 Desember 1963 para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek- robek foto Soekarno, dan membawa lambang Garuda Pancasila ke hadapan PM Malaysia waktu itu, Tunku Abdul Rahman, dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Insiden itu membuat Bung Karno murka. Ia pun berpidato:

”Kalau kita lapar itu biasa. Kalau kita malu, itu juga biasa. Namun, kalau kita lapar atau malu itu karena Malaysia, kurang ajar! Kerahkan pasukan ke Kalimantan, hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat, jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak Malaysian keparat itu.”

”Doakan aku, aku akan berangkat ke medan juang sebagai patriot bangsa, sebagai martir bangsa, dan sebagai peluru bangsa yang tak mau diinjak-injak harga dirinya.”

”Serukan, serukan ke seluruh pelosok negeri bahwa kita akan bersatu untuk melawan kehinaan ini. Kita akan membalas perlakuan ini dan kita tunjukkan bahwa kita masih memiliki gigi yang kuat dan kita juga masih memiliki martabat.”

”Yoo… ayooo… kita ganyang. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Bulatkan tekad. Semangat kita baja. Peluru kita banyak. Nyawa kita banyak. Bila perlu satoe- satoe!”

Rencana nekolim

Dibakar oleh pidato Bung Karno melalui radio itu (waktu itu radio merupakan media utama informasi), gerakan Ganyang Malaysia pun meledak ke seluruh negeri. Pendaftaran sukarelawan terjadi di mana-mana. Semangat bangsa saat itu memang sedang melambung setelah keberhasilan kita membebaskan Irian Barat pada tahun 1962.

Waktu itu, secara militer Indonesia merupakan negara terkuat di Asia Tenggara, terutama berkat persenjataan yang dibeli dari Uni Soviet. Semangat antinekolim juga sangat tinggi. Inggris pada tahun 1960-an itu masih merupakan kekuatan global.

Sebenarnya, Indonesia (dan Filipina) secara resmi setuju menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas rakyat di daerah yang akan dilakukan dekolonisasi menyetujui lewat referendum yang diorganisasi PBB. Namun, sebelum hasil referendum diumumkan, pembentukan Malaysia sudah diresmikan pada 16 September 1963, sesuatu yang dianggap Indonesia sebagai bukti rencana nekolim untuk terus mengangkangi Asia Tenggara.

Dari segi militer konfrontasi Indonesia-Malaysia, umum disebut sebagai undeclared war karena perang terjadi tanpa pernah didahului pernyataan perang. Inggris dan sekutunya (Malaysia, Australia, dan Selandia Baru) waktu itu memiliki sekitar 17.000 anggota pasukan di Kalimantan serta 10.000 anggota pasukan yang ada di Semenanjung Melayu.

Pertempuran kecil-kecilan (skirmishes) tentara Indonesia dengan Inggris terutama terjadi di perbatasan Kalimantan. Ada juga penyusupan tentara Indonesia di Semenanjung Malaysia.

Konfrontasi berakhir setelah Presiden Soekarno digantikan oleh Presiden Soeharto. Jumlah korban tewas di kedua belah pihak lebih besar berada di pihak Indonesia (sekitar 590 orang dibandingkan dengan Inggris, Australia, Selandia Baru yang hanya 114 jiwa).

Dalam rangkaian konfrontasi ini, sebuah insiden pernah terjadi antara Indonesia dan Singapura tatkala Singapura tetap menggantung dua prajurit marinir Indonesia yang tertangkap waktu menyusup ke Singapura meski Presiden Soeharto sudah mengirim utusan khusus agar hukuman itu diperingan.

Insiden itu lama terekam dalam ingatan kolektif bangsa, antara lain lewat syair yang dinyanyikan dalam permainan kim (main tebak angka berhadiah ala Minang yang kemudian dilarang karena dianggap judi). Bunyinya ”Lee Kuan Yew sangat kejam, membunuh dua pahlawan, nama Harun dan Usman”.

Semua peserta tebak-tebakan pun langsung mafhum, angka yang keluar adalah 68, yakni tahun terjadinya penggantungan itu.

Kini kedua pemerintah, Indonesia dan Malaysia, sepakat menyelesaikan insiden perbatasan melalui jalur diplomasi (soft power). Pemakaian kekerasan atau hard power dianggap tidak akan dapat memecahkan masalah.

Namun, perlu diingat, dalam penyelesaian suatu sengketa perbatasan, hard power sering diperlukan sebagai back-up dari diplomasi. Sengketa Irian Barat (Papua) dengan Belanda juga bisa dimenangkan dengan perpaduan kedua hal itu.

Publik mestinya masih ingat, sewaktu penyelesaian kasus sengketa Sipadan-Ligitan dengan Malaysia pada 2002, melalui Mahkamah Internasional pemerintah berusaha meyakinkan masyarakat bahwa kans kita menang fifty-fifty karena kita mempunyai bukti-bukti yang sahih tentang kepemilikan dua pulau tersebut.

Ternyata hasilnya jeblok. Kita kalah karena hanya satu hakim yang memenangkan dalih-dalih kita dan 16 lainnya menolak.

9 September 2010 Posted by | Tak Berkategori | | Tinggalkan komentar

Serangan di Irak Tewaskan 5 Orang


Kamis, 9 September 2010

BAGHDAD, Serangkaian serangan bom dan penembakan di Irak, Rabu (8/9), menewaskan lima orang, termasuk seorang penyiar televisi, saat Baghdad memberlakukan larangan bagi sepeda motor menjelang Idul Fitri.

Kekerasan itu, yang juga melukai puluhan orang, terjadi tiga hari setelah serangan-serangan bunuh diri terkoordinasi terhadap kompleks militer Irak di Baghdad yang menewaskan 12 orang dan mencederai 36 orang lain. Di kota Mosul, Irak utara, Sabah al-Khayat ditembak mati di depan rumahnya ketika sedang berangkat ke tempat kerjanya di stasiun televisi satelit Al-Mosuliyah, dimana ia menyiarkan program mengenai masjid dan tempat suci di kota itu.

“Orang-orang bersenjata menembak mati wartawan Sabah al-Khayat di depan rumahnya di Mosul pusat ketika ia sedang berangkat untuk bekerja,” kata seorang pejabat kepolisian yang tidak bersedia disebut namanya.

Penembakan itu merupakan pembunuhan yang kedua terhadap seorang wartawan televisi di Irak dalam beberapa hari ini. Riad al-Saray, seorang penyiar ternama yang menyajikan program-program politik dan keagamaan untuk televisi pemerintah Al-Iraqiyah, dibunuh Selasa, di Baghdad barat.

Dalam serangan paling mematikan, Rabu, sebuah kendaraan yang berisi bom diledakkan, dan ledakan itu segera disusul dengan ledakan bom pinggir jalan di dekat sebuah terminal bus di daerah Bayaa, Baghdad selatan, yang menewaskan dua orang. Para pejabat dari Departemen Pertahanan dan Dalam Negeri mengatakan, lebih dari 20 orang cedera dalam pemboman itu, termasuk 10 anggota pasukan keamanan Irak.

Di Jalan Al-Sheikh Omar di pusat kota Baghdad, dua ledakan bom pinggir jalan yang terjadi hampir serentak menewaskan satu orang dan melukai 12 lain, kata pejabat Departemen Dalam Negeri dan seorang dokter. Masih hari Rabu, seorang petani tewas di kota Mayndili, Irak tengah, ketika truknya terkena ledakan bom pinggir jalan di lahan pertaniannya, kata Mayor Mohammed al-Karkhi, juru bicara kepolisian di Provinsi Diyala sebelah utara Baghdad.

Serangan-serangan itu terjadi beberapa hari setelah berakhirnya operasi tempur AS di Irak pada 31 Agustus. Penarikan pasukan Amerika dilakukan bertepatan waktunya dengan meningkatnya serangan bom mobil dan penembakan yang ditujukan pada pasukan Irak yang mengambil alih tanggung jawab keamanan dari pasukan AS sejak 2009.

Ratusan orang tewas dalam gelombang kekerasan terakhir, termasuk sejumlah besar polisi Irak, tetapi AS tetap melanjutkan penarikan pasukan dari negara itu. Meski kekerasan tidak seperti pada 2006-2007 ketika konflik sektarian berkobar mengiringi kekerasan anti-AS, sekitar 300 orang tewas setiap bulan tahun ini, dan Juli merupakan tahun paling mematikan sejak Mei 2008.

Militer AS menyelesaikan penarikan pasukan secara besar-besaran pada akhir Agustus, yang diumumkan sebagai akhir dari misi tempurnya di Irak, dan setelah penarikan itu jumlah prajurit AS di Irak menjadi sekitar 50.000.

9 September 2010 Posted by | Tak Berkategori | | Tinggalkan komentar

Perundingan Kinabalu Tak Jawab Kegusaran Publik


08/09/2010

Jakarta – Perundingan RI-Malaysia di Kota Kinabalu, Malaysia, Senin (6/9) dinilai masih belum menjawab kegusaran publik. Alih-alih Malaysia meminta maaf ke Indonesia, masih panjang menanti Indonesia ‘berdaulat’ di depan Malaysia.

Wakil Ketua DPR Pramono Anung mengatakan perundingan Kinabalu yang dilakukan Menlu RI Marty Natalegawa dan Menlu Malaysia Datuk Seri Anifah masih mencerminkan potret diplomasi yang lunak.

“Perundingan masih lunak. Sebagai diplomat, Menlu Marty harus lebih punya sikap,” tandasnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (7/9). Pramono menegaskan, yang terpenting dari pertemuan Kinabalu adalah harus ada tindak lanjut berikutnya.

Pramono berharap agar ke depan Malaysia lebih bisa menghormati Indonesia. “Saya berharap ada diplomasi yang lebih equal antara Indonesia-Malaysia,” harapnya yang juga mantan Sekjen DPP PDI Perjuangan.

Sementara Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin mengungkapkan hal senada yakni pertemuan Kinabalu harus ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya. Ia menyebutkan, potensi konflik RI-Malaysia masih terbuka. “Pertanyaannya, kalau terjadi insiden bagaimana penanganannya,” imbuhnya.

Lukman menegaskan, pertemuan Kinabalu masih belum mencerminkan keinginan publik. Lukman juga menyayangkan mengapa permintaan maaf yang kabarnya disampaikan pihak Malaysia kepada Indonesia dilakukan secara tertutup. “Seharusnya di-declare-kan,” tandasnya.

Terpisah anggota Komisi I DPR Ahmad Muzani mengungkapkan, perundingan Kinabalu masih belum konkret pada pokok persoalan. “Perundingan Kinabalu belum konkret dan maksimal,” cetusnya seraya menegaskan agar diplomasi jauh lebih dikuatkan.

Seharusnya, sambung Muzani, dalam perundingan tersebut juga ditekankan pada garis batas serta meminta agar TKI yang akan dieksekusi mati dibebaskan. “Dan yang mendapat ancaman hukuman mati harus diringankan,” pintanya.

Dalam pertemuan di Kinabalu di antaranya disepakati terkait insiden 13 Agustus 2010, Menlu RI telah menyampaikan kembali keprihatinan mendalam atas penahanan dan informasi mengenai perlakukan tidak layak kepada ketiga petugas Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Menlu Malaysia menyampaikan bahwa Pemerintah Malaysia memutuskan ke depan prosedur penahanan tersebut tidak akan diberlakukan kepada petugas Indonesia.

8 September 2010 Posted by | Tak Berkategori | | 1 Komentar